Laporkan Penyalahgunaan

Arsip

Translate

1minggu1cerita
Blogger Perempuan

LESTARIKAN CANTIKMU TIPS PRAKTIS dari Blogger Gathering #LTKLxMadanixBPN 9 April 2021

4 komentar


Berawal dari ikut kompetisi blog #lestarikancantikmu mengenai sustainable beauty, merawat kecantikan dan memilih produk yang selaras dengan alam yang digelar oleh #LTKLxMadanixBPN yaitu Lingkar Temu Kabupaten Lestari, Madani Berkelanjutan, dan Blogger Perempuan Network tanggal 8 Februari - 7 Maret 2021 kemarin, saya berkesempatan mengikuti Blogger Gathering  berupa webinar #lestarikancantikmu pada 9 April 2021 yang lalu.

 

KOMPETISI BLOG DAN BLOGGER GATHERING PERTAMAKU

Yup, Ini pertama kalinya saya ikutan lomba blog. Dari dulu sebenarnya pengen ikut tapi karena agak kurang update di dunia blog, akhirnya sering terlewat deh berbagai lomba blog. Nah saat akhir Febuari lalu tahu ada kompetisi  #lestarikancantikmu yang temanya sustainable beauty and wellness, saya langsung  tertarik dan pasang target untuk menulis karena ini tema yang saya suka. Meski menulis blog dan mengirim tulisannya mepet dengan deadline, akhirnya kesampaian juga niat ikut kompetisi blog.  Fiuh. Centang lagi satu dari list of 100 things to do as a blogger.

Eh gak nyangka, beberapa waktu setelah submit tulisan, saya dapat undangan sebagai salah satu dari 30 blogger terpilih untuk mengikuti rangkaian acara sesudah kompetisi, yakni Online Blogger Gathering berupa webinar #Lestarikancantikmu.

Karena ini pertama kalinya saya ikutan acara blogger, apalagi secara daring, sempet mikir juga, acara macam apa ya ini? Ternyata ini diskusi online yang membahas tentang bagaimana ide sustainable atau berkelanjutan itu bisa diterapkan juga dalam praktik beauty and wellness, baik di level konsumen maupun produsen. Niatnya sih, dengan acara ini para blogger bisa mendapatkan informasi bermanfaat dan menarik mengenai sustainable beauty and wellness dan kemudian turut menyebarkan informasi tersebut lebih luas lagi.

APA SAJA YANG DIBAHAS DI WEBINAR #LESTARIKANCANTIKMU?

Ada 3 orang narasumber webinar ini, yakni drg. Danang Wisnu Wardhana alias kak Danang yang juga seorang skincare content creator, lalu ada kak Gita Syahrani (Kepala Sekretariat LTKL) dan ada kak Christine Pan (Pendiri Segara Naturals).

Sesi Pertama, Drg. Danang Wisnuwardana

Kak Danang ini rupanya seorang yang sangat sadar perawatan kulit sejak amat sangat dini. Soalnya kak Danang sudah konsisten pakai tabir surya sejak SD dan pakai double cleansing sejak SMP, guys. Kebayang gak? Jaman SD dan SMP! Pantes aja  kulitnya glowing  begitu. Saya kelas 6 SD masih sepedaan keliling kampung dengan celana pendek tanpa peduli matahari, hahaha.

Nah menurut Kak Danang, menggunakan produk perawatan kecantikan itu harus tahu dan jelas tujuannya untuk apa. Kalau ingin hasilnya efektif, maka kita kudu tahu bahan apa saja yang bisa membantu mencapai tujuan itu. Kita kudu belajar dan cari tahu bahan kandungan suatu produk apa saja, sesuai tidak dengan tujuan awal memakai produk kecantikan tersebut? Jangan termakan iming iming penjual.  Jadi kalau ingin kulit glowing misalnya ya cari tahu cara mengatasi kulit kusam misalnya, bahan apa saja yang bisa membuat tujuan itu tercapai. Lalu cari pada produk kecantikan. Kudu baca dan paham apa yang tertera pada label produk, supaya tidak ngawur dan ujung-ujungnya mubazir sudah membeli produk tersebut.

Lalu menggunakan skincare  itu harus bikin bahagia. Loh kog bisa? Iya karena kalau kita tahu bahan produk yang kita pakai itu baik, didapatkan dan diproduksi dengan cara yang baik, pasti kita pas pakainya juga dengan senang dan bahagia kan.  

Memakai produk yang bebas dari bahan berbahaya juga lebih aman bagi kulit hingga hasilnya bisa lebih maksimal. Intinya produk dengan bahan aman, ramah lingkungan dan ramah sosial itu bikin kita happy dan hasilnya lebih bagus guys. Kak Danang juga menyebutkan bahwa salah satu ciri produk yang aman itu adalah yang sudah ada sertifikasi dari BPOM.

Kak Danang Wisnu Content Creator


Terus, kayak apa sih produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial itu? Nah ini dibahas di sesi kedua oleh kak Gita Syahrani dari LKTL Madani.

Pertama kak Gita menjelaskan bahwa menurut studi tren kecantikan di wilayah Asia yang dilakukan LKTL Madani di Indonesia, Jepang, Korea dan Cina, didapat data bahwa sebenarnya kalangan muda di keempat negara Asia itu sudah cukup concern dengan bahan bahan dalam sebuah produk dan isu lingkungan terutama soal polusi, terkait proses produksi hingga kemasan sebuah produk.

Studi tren kecantikan Asia oleh LKTL (Sumber: Webinar)

Nah masalahnya, bagaimana sih kita sebagai konsumen bisa  mengenali sebuah produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial?

Kak Gita Syahrani (sumber: Webinar)

Menurut kak Gita ada 3 hal yang bisa menandakan sebuah produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial:

1.   Menjaga fungsi alam tanpa bencana. Artinya produk tersebut tidak merusak alam. Untuk produk skincare lokal Indonesia yang menggunakan komoditas Indonesia, mungkin salah satu tolok ukurnya adalah komoditas tersebut jangan sampai dikaitkan dengan hal hal  yang menimbulkan kebencanaan. Kalau misalnya komoditas yang digunakan diproduksi dalam jumlah besar, ditanam di tanah yang tidak sesuai peruntukannya dan akhirnya menimbulkan bencana, maka produk yang menggunakan komoditas tersebut sudah tidak bisa dikatakan produk ramah lingkungan. 
2.      Petani/pekebun sejahtera, misalnya dengan melakukan praktek perdagangan yang adil, tidak monopoli. Atau apakah para petani diajarkan praktek pertanian yang baik yang tidak perlu menggunakan pestisida hingga kualitasnya terjaga. 
3.    Bertangunggjawab atas penggunaan energi dan limbah produksi. Misalnya, dalam proses pembuatannya produk tersebut menggunakan energi yang terbarukan, berkomitmen atas jejak karbon, berupaya sebisa mungkin untuk  zero waste.

Kak Gita juga menekankan bahwa untuk mengenali produk ramah lingkungan; pertama memang tidak bisa digeneralisir, karena meski sudah ada standarnya untuk komoditas yang sustainable, seperti misalnya standar ISPO untuk sawit, tapi ada produk yang sudah mencantumkan dan ada juga yang tidak mencantumkan label sertifikasinya hingga tak selalu bisa kita sebagai konsumen “melakukan trace”. Kedua, sebagai konsumen harus secara spesifik cek label produknya. Untuk mudahnya pilih saja produk yang bercerita. Produk yang mau menceritakan darimana produk itu berasal, bagaimana produk itu diproses, apakah mereka melakukan praktik perdagangan yang adil dengan para petani/pekebun, apakah mereka berusaha mengurangi jejak karbon dan sebagainya. Makin jujur suatu produk bercerita pada labelnya, makin baik karena kemungkinan besar lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Sesi yang dibawakan oleh kak Gita ini selintas sepertinya njelimet ya, ada data dan penjabaran hasil beberapa penelitian. Namun sama sekali gak terasa karena kak Gita membawakannya dengan lugas dan juga diselingi canda. Coba aja deh cek dan tonton sendiri webinar ini di youtube channel Lingkar Temu Kabupaten Lestari.

Sesi ketiga, Christine Pan, Founder Segara Naturals

Nah kalau kak Christine Pan dari Segara Naturals mengawali sesinya dengan cerita perjalanannya sebagai orang yang sering bepergian ke pelosok Indonesia untuk pekerjaan maupun piknik. Kak Christine sering melihat kecantikan alam Indonesia ini banyak ternodai oleh sampah dan juga hutan yang rusak di sana sini. Kekayaan alam Indonesia yang beraneka ragam juga ternyata belum banyak dimanfaatkan secara maksimal. Akhirnya berbekal pengalamannya yang pernah bekerja di science lab, Kak Christine memutuskan membuat produk perawatan tubuh dan kecantikan sendiri dibawah brand Segara Naturals. Kak Christine bertekad menggunakan komoditas alam Indonesia, menerapkan visi produk sealami mungkin serta ramah lingkungan dan ramah sosial dalam proses kurasi bahan baku serta produksinya. Misalnya menggunakan minyak tengkawang yang diambil dari Kalimantan dan madu hutan Baduy serta paduan 100% essential oil blend. 

Kak Christine Pan, Founder Segara Naturals (Sumber:Webinar)

Hasilnya adalah produk produk cantik berbentuk solid atau batang yang dikemas dalam wadah kaleng alumunium seperti ini. Karena kemasan dan bentuknya yang praktis ini, produk Segara Naturals anti bocor dan gampang diselipin ke dalam tas, cocok buat dibawa oleh para pecinta traveling atau siapapun yang sering bepergian. Sabun traveling yang dinamai Gado Gado ini misalnya, kecil, praktis, dan harumnya itu..ahhh enak banget, kalau buat saya mengingatkan pada perpaduan antara bau kayu kayu basah di hutan serta bau jamu, haha.

sumber: Dok. pribadi

Segara Naturals juga bertekad menghindari bahan bahan yang dilarang karena dianggap berbahaya, misalnya;

Sumber Dok.Pribadi
.

Daftar lengkapnya bisa dilihat di situs web Segara Naturals berikut ini.  Nah seperti yang dibahas oleh kak Danang di sesi pertama bahwa salah satu ciri produk aman itu bisa dilihat dari ijin atau sertifikasi dari BPOM, maka saat ini Segara Naturals juga disebut tengah memproses ijin BPOM. Semoga langkah ini lancar hingga makin menambah nilai lebih Segara Naturals di mata konsumen, selain semua praktek ramah lingkungan dan ramah sosial yang sudah dijalankan.

Soal komitmen ramah lingkungan, kak Christine tidak mengklaim Segara Naturals  zero waste,  namun paling tidak sudah ada langkah diambil untuk mengurangi sampah yang dihasilkan. Tahun lalu misalnya, berdasarkan penghitungan yang dilakukan organisasi Divers Clean Action, sampah yang dihasilkan dari proses operasional dan produksi Segara Naturals pada Januari-Maret 2020 adalah 13,4 kg dan 99 persen diantaranya bisa didaur ulang. Keren banget kan? Kalau semua produsen produk kecantikan dan perawatan tubuh menerapkan visi seperti ini, berapa banyak sampah plastik yang bisa dikurangi coba.

Para Terpilih

Usai  sesi informatif mengenai praktik dan produk kecantikan yang berkelanjutan, saatnya lanjut dengan sesi foto-foto. Sesi ini rame karena hampers yang sudah dibagikan ke peserta dengan senang hati kita pamerkan untuk seru seruan saat foto. 

sumber:BPN

 

sumber: Dok.pribadi



Sesuai tema webinar, hampersnya juga cantik sekaligus praktis dan tentunya ramah alam. Misalnya sikat gigi dan alat makan dari kayu, body care, notebook  dan alat tulis, serta 3 tas dari kanvas, parasut dan belacu. Wah makasih banget. Jadi pengingat agar terus hidup lebih alami dan ramah pada alam serta ramah sosial. Kalau tahu acara para blogger seseru ini, bakalan rajin ikut lomba saya hahaha.  Bicara soal lomba, sesi akhir ini juga sekaligus acara pengumuman pemenang kompetisi blog #lestarikancantikmu. Berikut ini screen shot para pemenangnya. Selamat yaaa!


sumber : BPN

Saya sendiri gak juara, tapi baru pertama ikut lomba blog dan terpilih menjadi salah satu dari 30 blogger yang artikelnya dinilai terbaik diantara ratusan blogger yang ikutan kompetisi, rasanya sudah senang banget. Apalagi bisa ikut acara diskusi daring dengan tema yang sangat bermanfaat dan dapat hampers cantik praktis gratis ya kaan.

Nah akhirnya, inti dari webinar ini untuk diterapkan dalam keseharian kita ketika memilih dan menggunakan produk perawatan tubuh dan kecantikan, saya kira bisa mengacu pada yang diutarakan kak Gita berikut:


·       Baca label sebelum membeli, sesuaikan dengan tujuan dan kemampuan kita membeli produk.

·       Kenali bahan atau komposisi produk, kalau bisa kepoin semua, jaman sekarang kan gampang ya, apa apa bisa ditanyakan ke “mbah” Google. Pastikan bahan tersebut aman, cocok bagi kita.

·       Pahami komoditas asal, darimana bahan itu diambil?

·       Apa dampaknya? Apakah dalam proses pembuatan produk tersebut ada dampak buruk bagi lingkungan alam dan sosial?

·       Pilih yang lestari. Sebisa mungkin pilihlah produk yang tidak menyumbang bagi kerusakan alam atau kesusahan lingkungan sosial darimana produk itu diambil.

·       Kalau sudah melakukan semua hal diatas, jangan ragu untuk berbagi pengalaman dengan orang lain. Siapa tahu pengalaman dan cerita kita bisa mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Poin terakhir, kenapa semua hal diatas tentang merawat  lingkungan itu penting? Apa hubungannya sama  merawat dan mempertahankan kecantikan diri? Karena percuma aja kita pakai segala macam produk perawatan tubuh dan kecantikan kalau kita tinggal di bumi yang tidak cantik dan rusak. Pakai serum kulit tiap hari juga gak akan efektif kalau udara yang kita hirup jelek, tiap hari muka kena asap kebakaran hutan atau asap knalpot, atau keringetan tiap saat karena iklim yang terus memanas. Terus gimana mau cantik kalau rumah diterjang banjir karena hutan botak atau tumpukan sampah yang tak terurai? Gimana bisa cantik glowing bahagia kalau piknik ke pantai berenangnya bareng sampah plastik? Yuk, semua bisa dimulai dari diri kita sendiri. Merawat diri sembari merawat lingkungan. Untuk produk lokal Indonesia, mari kita viralkan slogan Bangga Produk Indonesia yang Ramah Lingkungan dan Ramah Sosial. Salam cantik lestari!
Pesiarsiar
Yumi, tukang pesiar yang suka menulis, membaca, menonton film dan bikin video. Potterhead garis keras. Alumni kampus biru Yogyakarta. Sekarang tinggal di Jakarta. Kemana-mana kalau bisa lebih pilih naik kereta. Suka warna senja.

Related Posts

4 komentar

  1. Wah selamat ya asudah jadi finalis, bisa ikutan acara bergizi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi mba Dewi, iya seneng banget bisa ikutan. Tambah seneng lagi disapa sama suhu blogger nih, makasih udah mampir sini yak mbak suhu :)

      Hapus
  2. mks infonya. Salam cantik lestari

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama, makasih dah mampir :)

      Hapus

Posting Komentar