Laporkan Penyalahgunaan

Arsip

Translate

1minggu1cerita
Blogger Perempuan

Tak Kenal Tanda Tak Sayang Kenali Produk Kecantikanmu Sayangi Dirimu

14 komentar

 

Hayo, siapa yang rajin membaca label produk kosmetik yang hendak dibeli atau dipakai? Seberapa banyak dari tulisan pada label yang dimengerti? Saya termasuk yang rajin baca label produk, namun tidak terlalu mengerti arti dari sebagian daftar kandungan kosmetik pada label sebuah produk. Apalagi jika tulisannya sudah “aneh bin ajaib” alias pakai bahasa ilmiah yang bukan bahasa sehari-hari. 

Tapi, seiring ketertarikan pada tren gaya hidup alami yang selaras dengan alam, saya jadi ingin tahu lebih banyak mengenai kandungan produk perawatan dan kecantikan yang saya pakai. Saya termasuk yang percaya bahwa sesuatu yang alami lebih bisa diterima tubuh dibanding yang sintetis. Intinya, kalau hendak makan saya pasti ingin tahu apa saja bahan bahan yang masuk ke mulut, maka tentunya jika hendak mengoles sesuatu ke kulit, saya juga harus tahu dong, apa saja kandungannya, amankah dan sesuai tidak dengan cita cita hidup lebih sehat dan selaras dengan alam?

 

Bicara tentang produk kecantikan yang aman, sejumlah kata otomatis terlintas di benak: bisa artinya bebas bahan berbahaya, ramah lingkungan, ramah sosial, organik, berkelanjutan. Tapi kalau lihat daftar bahan pada label produk, tak semuanya kita kenal kan? bisa jadi kita malah tambah bingung.

Lalu bagaimana kita bisa mengenali keamanan, komitmen kesehatan dan  visi sosial serta lingkungan sebuah produk kecantikan?

1. Ada izin BPOM                                                          

Yang pertama kita jadikan acuan tentunya produk tersebut sudah mendapatkan izin edar dari BPOM. Kalau sudah ada nomor izin BPOM, secara umum tentu sudah aman untuk digunakan. Cara mengeceknya bisa melalui situs web BPOM di https://cekbpom.pom.go.id/ dengan cara memasukan merk produk yang dicari atau nomor izin edar yang terdapat pada kemasan, jika ingin memastikan keabsahan nomor izin edar tersebut. Pengecekan juga bisa dilakukan melalui aplikasi BPOM.

2. Sertifikat natural atau organik

Salah satu cara lain yang bisa kita jadikan acuan jika mencari produk kosmetik organik adalah melihat sertifikasi ECOCERT. Lembaga ini menstandarkan arti alami dan organik pada produk kecantikan serta membuat panduan yang harus diikuti oleh para produsen produk kecantikan.  Rata rata 99% total bahan kandungan sebuah produk dengan sertifikasi ECOCERT berasal dari alam dan kemasannya harus biodegradeable (bisa terurai alami) dan recyclabe (bisa didaur ulang).  

Ada juga sertifikasi COSMOS, yakni Cosmos Organic dan Cosmos Natural, yang adalah bentukan ECOCERT dan 4 lembaga lain di Eropa dengan tujuan membuat standar sertifikasi produk kecantikan yang lebih global. Label Cosmos berarti standar diberikan oleh kelima lembaga tersebut. Minimum 95% total bahan kandungan sebuah produk harus berasal dari alam dan kemasannya harus biodegradeable (bisa terurai alami) dan recyclabe (bisa didaur ulang) agar bisa mendapatkan label standar Cosmos.

Yang harus diperhatikan saat baca label kandungan produk kecantikan

3. Nah sekarang, saat kita baca label produk kecantikan, jika produk tersebut mengandung bahan diantara yang disebut di daftar di bawah ini, maka produk tersebut tidak sesuai panduan ECOCERT:


 

Selain Ecocert, ada lembaga nirlaba dan non partisan seperti EWG atau Environmental Working Group di Amerika Serikat yang juga memeriksa beragam produk kecantikan dan mengkategorikannya sesuai bahan kandungannya. Tak cuma memberi label EWG Verified pada produk yang sesuai standar ketat mereka, EWG juga memberi kategori produk berdasarkan angka, 1 sebagai yang paling aman, dan 10 yang paling buruk dari segi pengaruh kandungannya bagi kesehatan. Nah jika tak ingin repot membaca situs EWG, ada juga aplikasi EWG yang bisa diunduh dan dijadikan panduan saat berbelanja produk kecantikan.

Aplikasi lain yang bisa digunakan adalah aplikasi Think Dirty yang juga bisa membantu konsumen untuk memilah produk kecantikan berdasarkan kandungannya. Aplikasi ini juga bisa digunakan untuk membandingkan kandungan antar produk.

Kalau menurut situs web mindbodygreen, ada 12 bahan pada produk perawatan dan kecantikan yang sebaiknya dihindari, yaitu :

1.Coal tar dyes, karena bisa menjadi pemicu iritasi dan berpotensi karsinogen atau memicu kanker.

2.DEA atau diethonolamine karena merupakan penyebab iritasi kulit, menganggu endokrin, dan setelah terpakai masih bisa terakumulasi di lingkungan.

3. Dibutyl phthalate karena berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan reproduksi

4. Formaldehyde karena bisa menyebabkan dermatitis dan kemungkinan memicu kanker.

5. Phthalate dan paraben, bisa memicu kanker. Namun jika pemakaian dibatasi masih bisa keluar dari tubuh dengan cukup mudah

6. Undisclosed fragrance atau bahan pengharum yang tak disebutkan dengan jelas karena bisa memicu iritasi bagi orang yang sensitif.

7. BHA (butylated hydroxyanisole, bukan beta-hydroxy acids) dan BHT (butylated hydroxytoluene), bahan pengawet sintetis yang dikategorikan ke skala 5 atau 6 oleh Environmental Working Group.

8. PEG, karena paparan dalam jangka lama bisa menyebabkan iritasi mata, hidung, tenggorokan, kulit, paru paru dan menyebabkan gangguan sistem syaraf, serta berpotensi karsinogen.

9. Petrolatum, atau mungkin tertulis petroleum, yang sudah terkontaminasi PAH, karena berpotensi karsinogen.

10. Silicone, karena berbahaya bagi kesehatan dan terakumulasi di lingkungan yakni di air.

11. Sodium laureth sulfate, karena memicu dermatitis, dan gangguan mikrobiom kulit yang bisa menyebabkan inflamasi pada tubuh.

12. Triclosan, karena menyebabkan gangguan hormon, fungsi seksual dan kesuburan, dan mungkin menyebabkan gangguan pada janin. Environmental Protection Agency mencatatnya sebagai pestisida, berbahaya bagi mahluk hidup manapun. Triclosan sering didapati pada pasta gigi dan bahan pembersih lainnya.

 

 

 

Kalau bicara produk, setahu saya ada satu produsen produk kecantikan merek lokal Indonesia yang sudah bersertifikasi ECOCERT, yakni PT. Martina Berto TBK dengan rangkaian produk Solusi Martha Tilaar Organic Renewage. Merk yang sudah melegenda ini saya kenal sejak jaman masih kecil karena ibu saya dulu menggunakannya. Namun seri produknya yang mendapatkan label ECOCERT sendiri terhitung merupakan produk baru. 

Ada juga produk perawatan kulit lokal dari Bali, Sensatia Botanicals yang disebut sebagai produk alami dengan visi ramah lingkungan dan ramah sosial dan berkelanjutan. Kalau melihat ke situs Sensatia Botanicals, kandungan produk produknya dijabarkan dengan jelas dan diberikan semacam label seperti pregnancy safe, breastfeed safe, reef safe, no animal testing, phthalate free, silicon free, sulfate free, paraben free, palm oil free. Produknya sudah lolos uji BPOM dan tersertifikasi GMP atau Good Manufacturing Practice jadi klaimnya bisa dipercaya. Perusahaan ini juga memberikan 20 persen dari laba perusahaan kepada karyawan dan yang paling saya suka adalah menerima daur ulang botol kemasan produk mereka.

Sementara untuk produk luar, ada satu merek yang saya suka, yakni The BodyShop.  Meski beberapa produknya yang saya gunakan hanya mendapatkan kategori 5 dari EWG,  namun visi perusahaan The Bodyshop mengenai fair trade yang memberdayakan komunitas dan juga para perempuan dalam pengadaan produknya, membuat saya cukup setia menggunakan merek ini.

Produk The Bodyshop incaran saya adalah yang menggunakan bahan Moringa Oleifera alias Kelor. Ini karena Kelor dekat dengan hati saya. Kalau di kampung halaman saya, hampir semua orang punya tanaman ini di halaman rumah mereka. Hampir setiap hari kami jadikan daun kelor sebagai lauk sayur. Dan ternyata, pohon kelor kerap disebut sebagai “pohon ajaib,” karena berdasarkan penelitian, hampir seluruh bagiannya punya manfaat, dari daun, biji, bunga, batang, hingga akarnya.

Daun pohon Kelor (Moringga  Oleifera) di halaman rumah ibu


Ada penelitian yang menemukan bahwa krim oles yang mengandung ekstrak daun kelor mampu merevitalisasi kulit dan mengurangi tanda tanda penuaan kulit. Mungkin itu sebabnya ada beberapa anggota keluarga saya di kampung yang sudah berusia diatas 50, 60, 70 tahun, masih terlihat cantik awet muda. 

Sayur daun Kelor


Karena banyak makan sayur kelor atau maskeran pakai daun kelor, jadi lestari kecantikan mereka.

Sejak viral sebagai “pohon ajaib” beberapa tahun belakangan, kelor pun dijadikan salah satu komoditas ekspor, misalnya dari Jawa Timur dan propinsi NTT.  Kelor dari NTT bahkan disebut memiliki kualitas nomor dua di dunia. Tak heran kelor juga dilirik perusahaan lokal untuk dijadikan bahan produk kesehatan atau produk kecantikan mereka. Di NTT misalnya, kelor sudah dijadikan produk sabun dan pelembab, meskipun skalanya masih kecil.

Selain itu kalau kita cari di internet, akan bertebaran produk lokal berbahan daun kelor, misalnya saja bubuk daun kelor atau Moringa powder, yang bisa ditambahkan pada makanan atau minuman. Semoga dengan makin dikenalnya manfaat kelor alias Moringa Oleifera, makin banyak orang yang menanam dan memanfaatkan, hingga komoditas berkelanjutan ini makin terangkat, lingkungan terjaga dan masyarakat  sejahtera seperti yang tergambar dalam video di bawah ini.

 


 

Sumber:

Diakses tanggal 4 Maret 2021

Ali A, Akhtar N, Chowdhary F. Enhancement of human skin facial revitalization by moringa leaf extract cream. Postepy Dermatol Alergol. 2014;31:71–76. doi: 10.5114/pdia.2014.40945. [PMC free article] [PubMed] [CrossRef] [Google Scholar]

https://www.researchgate.net/publication/319189137_Moringa_oleifera_A_Miracle_Multipurpose_Potential_Plant_in_Health_Management_and_Climate_Change_Mitigation_from_Bahraich_UP_India_-_An_Overview 

https://www.suarasurabaya.net/ekonomibisnis/2019/Sejak-Viral-2018-Daun-Kelor-Punya-Potensi-Ekspor-yang-Besar/

https://kumparan.com/florespedia/julie-laiskodat-sebut-kelor-di-ntt-terbaik-di-dunia-1t20dYBM7cG

https://bali.bisnis.com/read/20190826/538/1140966/ntt-targetkan-pengembangan-kawasan-tanaman-kelor-capai-135-hektare

https://www.ecocert.com/en/certification

https://www.cosmos-standard.org/about-cosmos

https://www.ewg.org/skindeep/contents/about-page/

diakses tanggal 5 Maret 2021

https://www.mindbodygreen.com/0-5971/12-Toxic-Ingredients-to-AVOID-in-Cosmetics-Skin-Care-Products-Infographic.html

Pesiarsiar
Yumi, tukang pesiar yang suka menulis, membaca, menonton film dan bikin video. Potterhead garis keras. Alumni kampus biru Yogyakarta. Sekarang tinggal di Jakarta. Kemana-mana kalau bisa lebih pilih naik kereta. Suka warna senja.

Related Posts

14 komentar

  1. Aku suka minum rebusan daun kelor, bagus buat kesehatan ya

    BalasHapus
  2. Halo mbak Dewi,makasih sudah mampir. Direbus ambil airnya aja mbak,sayurnya ga sekalian dimakan? Iya daun kelor banyak khasiat ya ternyata. Aku suka bikin bening kelor.

    BalasHapus
  3. Kelor atau marungga, sebutan khas orang NTT..salah satu bahan sayuran yg sangat familiar buat orang NTT πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banyak ditanam di halaman rumah warga. Gampang tumbuhnya kl di kampung saya.

      Hapus
  4. Informatif tulisannya Uri.. Thank you ya. Terus berkarya

    BalasHapus
  5. Thank you Hilly, iya nih nyalurin hobi bermanfaat. Btw I read your blog the other day,it's interesting!

    BalasHapus
  6. tapi kebanyakan produk racikan dari dokter itu non bpom, bagaimana?

    BalasHapus
  7. A great read, terima kasih informasinya Uri. Ini termasuk pengingat untuk aku, karena aku termasuk golongan yang njlimet kalau masalah ingredients makanan (pemanis buatan, perasa buatan, kandungan produk binatang, etc) tapi agak
    blasΓ© tentang ingredients perawatan tubuh. Namun demikian, sebisanya aku menghindari paraben dan sodium laureth sulfate, in addition aku coba pakai produk yang tidak menggunakan binatang sebagai kelinci percobaan.

    Satu lagi yang menurutku harus kita pikirkan juga, walau ini tergantung pada taraf perekonomian seseorang, adalah kemasan produk. Aku sedih kalau melihat bekas kemasan sachets shampoo/body wash bertebaran nggak karuan di sampah, dan nggak bisa didaur ulang. Sebisanya lah ya pakai kemasan yang bisa didaur ulang, or even better kalau ada yang isi ulang.

    Aku tunggu tulisan-tulisan selanjutnya Uri. Take care Xx

    PS: Ketika mengunjungi NTT tahun lalu, kami mengkonsumsi kelor hampir tiap hari!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Tary, makasih dah mampir��betul banget, semua yang under our control, misalnya makanan dan kosmetik sebisa mgk yang aman dan baik bagi kita dan juga lingkungan ya.

      Hapus
  8. Mantab...sangat bermanfaat mencerdaskan ternyata banyak manfaat dr daun kelor

    BalasHapus
  9. Keren artikelmu, maak...
    Makasih ya.. aku jadi tau kandungan2 kosmetik yg harus dihindari..
    Dan juga jadi tau, ternyataaa....
    Yang bikin keimutanmu awet sepanjang masa, itu adalah daun kelor!hahaha
    Aku jg suka makan daun kelor.. biasanya dibuat sayur bening.. tinggal petik di kebun belakang.. seger, sehat dan irit!hahaa..
    Eh, gimana cara bikin krem kelornya?
    Pengen awet muda jg....😍😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Cy, thanks udah mampir�� emang kelor dari kebon tu enak ya maak, dan murah*penting*. Krem Kelor beli jadi aja maak di toko ahaha.

      Hapus
  10. Terima kasih infonya Mba Uri, bikin kita lebih aware lagi. Aku baru ngeh kalau bodyshop baru dapat kategori 5 EWG. Aku suka merk itu salah satunya krn menerima kemasan bekasnya untuk di daur ulang, jadi nggak nambah²in sampah di bumi.

    Moringa itu kelor ya? Wah boleh dong artikel selanjutnya cara bikin masker kelor. Kebetulan di rumahku ada pohonnya.

    Sukses selalu Mba Uri :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Alya! Wah sama dong kita penggemar Bodyshop :) Aku juga suka brand yang Eco-friendly. Eh aku belum pernah nih bikin masker Kelor sendiri, tapi menarik juga ya kalau bisa bikin sendiri. Pasti aku share deh kalau nanti dah tau caranya. Amin makasih doanya dan makasih udah mampir. Besok2 mampir lagi yah :)

      Hapus

Posting Komentar